TAPTENG - Yayasan Edro Cahaya Kasih bantu warga Tapteng dalam memenuhi kebutuhan air bersih, dengan membangun jaringan distribusi air bersih bagi warga di Kecamatan Pandan dan Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, yang sejak bencana banjir dan longsor pada 2025 lalu kesulitan mendapatkan akses air untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Kehadiran yayasan ini difasilitasi oleh advokat Sihar H.P Sihite, yang notabenenya merupakan putra daerah Tapteng kelahiran Sipange Tukka.
Selain Yayasan Edro, Sihar juga berhasil menggandeng Universitas Pelita Harapan Jakarta, untuk memberikan layanan pemeriksaan dan pengobatan gratis bagi warga terdampak bencana, di Tapanuli Tengah.
Tak tanggung-tanggung, pihak Universitas Pelita Harapan sendiri langsung mengirimkan tim medis profesional dan spesialisnya yang berpengalaman untuk memberikan layanan terbaik bagi warga yang membutuhkan.
Peresmian penggunaan jaringan distribusi air dan layanan pengobatan gratis ini digelar di Perempatan Jalan STZ Tampubolon-Jalan Sibarung-barung, Kelurahan Sitiotio Hilir, Kecamatan Pandan, Tapteng, pada Sabtu (7/2/2026).
Bupati Tapteng yang diwakili oleh Sekda Binsar Tua Hamonangan Sitanggang didaulat untuk meresmikan pengoperasian jaringan distribusi air ini dan meninjau langsung proses layanan pengobatan gratis yang dilakukan oleh tenaga medis dari Universitas Pelita Harapan Jakarta.
Sihar H.P Sihite, mewakili Yayasan Edro dan Univ. Pelita Harapan menjelaskan, Dibangunnya fasilitas air bersih bagi warga ini bermula dari keinginan pihaknya ingin berkontribusi dan memberi dampak dalam pemulihan Tapteng pasca bencana.
Sihar menerangkan, pasca berkoordinasi dan berkomunikasi dengan warga diketahui bahwa salah satu hal yang sangat penting untuk dipenuhi adalah ketersediaan air bersih yang layak guna dan konsumsi.
Dampak bencana 25 November 2025 lalu, menurut Sihar, telah menyisakan banyak persoalan yang salah satunya adalah sulitnya mendapatkan akses air bersih karena fasilitas air milik Perumda Mual Nauli Tapteng belum bisa berfungsi seratus persen.
"Jadi, saya (setelah) melihat (dan bertanya) apa yang dibutuhkan oleh masyarakat, (masyarakat menjawab) adalah fasilitas air bersih," kata Sihar.
Beranjak dari keluhan warga ini, pihaknya pun langsung bekerjasama dengan Yayasan Edro Cahaya Kasih Jakarta, untuk membangun fasilitas air bersih di daerah terdampak secepatnya.
"Pada proses pembangunan (fasilitas air) ini, mereka (warga-red) tidak digaji. Mereka dengan ikhlas bergotong-royong, dan keinginan mereka secepat mungkin ini selesai karena kebutuhan air ini adalah kebutuhan yang mendasar," ungkapnya.
Masih kata Sihar. Semula Ia dan Yayasan Edro Cahaya Kasih hanya akan menyediakan fasilitas air bersih di dua titik saja, namun atas permintaan warga pihaknya akhirnya menambah titik ketiga dan ke empat untuk memaksimalkan warga menerima manfaat ketersediaan air bersih ini.
"Tadinya hanya dua titik saja di Kelurahan Sipange Tukka. Namun warga meminta titiknya ditambah agar semakin banyak yang mendapatkan manfaatnya. Maka, kita tambah satu titik di Desa Aek Garut dan satu titik di Desa Sitio-tio hilir Pandan," beber Sihar.
Untuk menyelesaikan fasilitas ini, lanjut Sihar. Pihaknya membangun pipanisasi sepanjang 2000 meter dan menghabiskan anggaran sebesar Rp261.551.500.
Sementara itu, Sekdakab Tapteng Binsar Tua Hamonangan Sitanggang, atas nama Pemkab dan masyarakat Tapteng, mengapresiasi kontribusi Yayasan Edro Cahaya Kasih mengatasi persoalan air bersih di Tapteng pasca bencana.
Binsar menyebut bantuan fasilitas distribusi air bersih tersebut sangat bermanfaat bagi masyarakat khususnya di Kecamatan Tukka dan Pandan.
"Bantuan pembangunan bak air dan pipanisasi ini sangat berarti bagi kami," ucapnya.
Pria yang baru menjabat dua bulan sebagai Sekda ini mengakui pihaknya belum bisa berbuat banyak dalam memenuhi kebutuhan air warga pasca bencana.
Namun, kehadiran Yayasan Edro Cahaya Kasih dan NGO-NGO lainnya di Tapteng telah benar -benar membantu pemenuhan air bersih bagi warga sebagai kebutuhan yang paling mendasar.
"Terimakasih kepada Yayasan Edro Cahaya Kasih. Semoga sinergi dan kolaborasi ini bisa semakin baik dimasa yang akan datang," katanya.
Pihak Yayasan Edro Cahaya Kasih sendiri, yang diwakili oleh Rara Manurung, mangaku merasa bangga bisa membantu pemulihan Tapteng, pasca dilanda bencana lingkungan.
Rara menjelaskan, kehadiran yayasan ini terinspirasi dari kepedulian sang cucu bernama Edro yang memiliki kepedulian luar biasa dalam membantu orang lain.
Sayangnya, sang cucu tidak berusia panjang karena meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas pada tahun 2025 lalu.
"Penamaan yayasan ini, diambil dari nama cucu saya bernama Edro, yang meninggal dunia dalam peristiwa kecelakaan lalu lintas," ungkapnya, di acara peresmian.
"Dan, kegiatan kemanusiaan ini, untuk mengenang dan mewujudkan keinganan Almarhum Edro, yang gemar membantu sesama di masa hidupnya," ujarnya.
Pendeta Sitompul, warga setempat, mengungkapkan rasa bahagianya karena tidak lagi kesulitan mendapatkan air bersih.
"Doa terbaik dari kami (warga), untuk Yayasan Edro dan tim medis FK UPH. Terimakasih sudah berkenan membantu kami," ucapnya, di acara peresmian.

