40 Hari Pasca Bencana, Sekolah di Tapteng Dimulai Kembali

SW25
0
Anak-anak di tenda-tenda darurat yang disulap menjadi sekolah kembali mengikuti proses belajar mengajar meskipun dengan keterbatasan sarana dan prasarana yang ada

TAPTENG - Setelah terhenti selama 40 hari akibat bencana banjir dan longsor di Tapanuli Tengah (Tapteng), kini proses belajar dan mengajar di sekolah telah dimulai kembali, pada Senin (5/1/2026).

Plt. Kadis Pendidikan Tapteng, Johannes Simanjuntak menjelaskan, dimasa transisi darurat menuju pemulihan pascabencana, Disdik Tapteng menerapkan sistem ajar yang menyenangkan dan berfokus pada pemulihan psikososial siswa pasca bencana (trauma healing).

"Semua sekolah sudah siap untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar yang menyenangkan, tidak ada beban-beban PR," kata Johannes.

Dijelaskan, untuk menyiapkan infrastruktur pendidikan yang memadai di daerah terdampak bencana, khususnya di desa/dusun yang masih terisolir, pihaknya telah menyiapkan tenda bantuan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sebagai sekolah darurat.

Sedangkan untuk desa terdampak lainnya, seperti di Hutanabolon, Kec. Tukka, dua sekolah dasar yang ada masing-masing SDN Hutanabolon 1 dan SDN Hutanabolon 2, proses ajarnya disatukan di SDN Hutanabolon 1 dan di sekolah darurat yang telah ada.

Untuk peralatan dan perlengkapan sekolah sendiri, lanjut Johannes. Pemkab Tapteng telah mendistribusikan bantuan berupa seragam, alat tulis  dan tas, jauh sebelum proses belajar dan mengajar dimulai hari ini (Senin 5/1).

"Tadi kita tanya (siswa yang tidak pakai seragam, alasan mereka), takut kotor, seperti itu. Tapi pada umumnya, siswa yang ada di Kecamatan Tukka secara khusus sudah mendapatkan bantuan untuk pakaian seragam  sekolah dan alat-alat tulis," terangnya.

Masih kata Johannes, sejauh ini sejumlah sekolah masih terus melakukan proses pembersihan akibat endapan lumpur yang rata-rata setebal 80 cm. Kendati demikian, proses belajar dan mengajar tetap berlangsung meskipun dengan aktivitas yang terbatas.

Untuk menormalisasi lingkungan sekolah, Disdik Tapteng bekerjasama dengan Baznas Tapteng dan Dinas PUPR Tapteng telah mendatangkan alat berat Beko untuk mengeruk sedimen yang ada dibantu oleh beberapa guru yang ditugaskan.

"Sejauh ini sejumlah sekolah masih dalam progres pembersihan, (rata-rata), tingkat kebersihannya masih sekitar 70 persen," ujarnya.

Johannes mengungkapkan, proses belajar mengajar di 16 kecamatan yang terdampak sudah berjalan normal dengan tingkat kehadiran siswa 90 persen. Sedangkan untuk fasilitas pendidikan sendiri terdapat 300 sekolah yang terdampak dengan rincian 194 SD, 98 SMP dan 8 TK PAUD.

"Kita terus melakukan pemetaan dan sudah kita buat proposal ke Kementerian terkait khususnya Kemendikdasmen dan PUPR, untuk nantinya bisa membantu melakukan rekontruksi dan perbaikan sekolah," pungkasnya.--Samsul Pasaribu--

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)