![]() |
| Alfamidi Super d li Jalan P. Sidimpuan Sarudik, didatangi paksa leh massa untuk mendapatkan sembako |
PANDAN - Bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) dan Kota Sibolga, sejak 25 November 2025 membuat masyarakat berduka dan berada dalam kondisi darurat.
Amatan limakabar.com, akses transportasi, komunikasi, dan jaringan listrik lumpuh total, menyebabkan distribusi logistik terhambat dan kebutuhan pangan masyarakat tidak terpenuhi.
Keterlambatan bantuan memicu kemarahan warga.
Pasalnya, memasuki hari ke lima bencana, masyarakat belum menerima bantuan apa pun.
Ancaman kelaparan dan ketidaksediaan air bersih memaksa warga mengambil langkah nekad.
Sejumlah warga terpaksa melakukan penjarahan di seluruh supermarket khususnya di pusat kota Pandan, ibukota Tapanuli Tengah.
Penjarahan bahkan sudah mulai berlangsung sejak Jumat malam (19/11/2025)
Dimulai dari Indomaret Simpang Pesantren, menjalar ke Alfamidi Pandan, Indomaret Simpang Tukka, dan berakhir di Indomaret Komplek Kantor Bupati Tapteng.
Hari ini, sejak pagi, upaya warga mendapatkan sesuap nasi berlanjut dengan menjarah Swalayan Aido Pandan, Bina Swalayan Pandan dan Alfamidi Sibuluan.
Puncaknya, penjarahan berlanjut ke supermarket terbesar di Sibolga dan Tapteng, Alfamidi Super Sarudik, diperbatasan Sibolga Tapteng.
“Sudah berapa hari ini bang, bantuan belum ada datang. Kami mau makan apa? Anak-anak kami sudah kelaparan,” ujar seorang warga Sibuluan dengan nada sedih.
"Mana pemerintah, mana!" teriak warga yang lain.
Kondisi tersebut turut menyulut emosi warga lainnya. Banyak pengendara yang melintas tampak meneriakkan dukungan terhadap aksi warga yang menjarah.
“Hanjarrr! Sudah lapar masyarakat!” seru beberapa warga dengan lantang.
Warga juga mengeluhkan terputusnya seluruh layanan vital, mulai dari listrik, jaringan internet, air bersih, hingga jembatan penghubung antar wilayah.
Sejumlah aparat yang awalnya berusaha mencegah tak mampu membendung dan meyakinkan warga bahwa bantuan akan segera di salurkan.
Jadilah penjarahan tersebut berlanjut dan belum terlihat tanda tanda berakhir.
Menanggapi situasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah melalui Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Jonnedy Marbun, menyampaikan bahwa penyaluran bantuan logistik tahap pertama mulai dilakukan melalui jalur udara karena akses darat tidak bisa dilalui.
“Kita akan menyalurkan dua ton bahan pangan seperti beras, indomie, minyak goreng, dan ikan rebus ke setiap kecamatan,” ucap Jonnedy.
Ia menegaskan bantuan dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan BNPB telah mulai masuk melalui jalur helikopter, serta sebagian akan dijemput dari Bandara Pinangsori.
“Keterlambatan ini dikarenakan akibat akses internet komunikasi dan listrik kita terputus total, sehingga koordinasi dan pendataan korban sedikit terhambat. Kami mohon maaf atas keterlambatan ini,” jelasnya.
Jonnedy berharap masyarakat tetap tenang dan bersabar karena distribusi bantuan akan berjalan secara bertahap.
“Mulai hari ini dan seterusnya, bantuan akan turun ke setiap kecamatan. Kami berharap masyarakat bersabar,” pungkasnya.
Situasi lapangan masih terus berkembang, dan proses pendataan korban serta kerusakan infrastruktur masih berlangsung hingga saat ini.

