![]() |
| CDR Gustin dari USA saat memberikan materi terkait Kegawatdaruratan Ibu Hamil di RSUD Pandan Tapteng |
PANDAN - Delegasi Pasifik Partnership 2026, gelar sosialisasi dan pelatihan Kegawat Daruratan Ibu Hamil di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pandan, pada Rabu (22/7/2026)
Sosialisasi ini menjadi bagian dari Subject Matter Expert Exchange (SMEE) Pasifik Partnership 2026. Yakni sebuah program pertukaran pengetahuan, keahlian dan pengalaman yang disampaikan oleh delegasi PP2026 dengan masyarakat lokal.
Pelatihan ini diikuti seratusan peserta dengan latar belakang profesi bidan dan perawat, utusan Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah, Dinas Kesehatan Kota Sibolga serta RSUD Pandan.
Pelatihan bertajuk "Strengthening Partnership, Collaboration, and Interoperability of Crisis Response" ini menghadirkan narasumber dari Amerika Serikat, CDR Gustin dengan interpreter Lettu CKM (K) dr. Nia Sabrina Purnama Sari, dari Pusdikkes Puskesad, Jakarta.
dr. Nia Sabrina Purnama Sari, kepada limakabar.com menjelaskan bahwa pelatihan hari itu menyasar tenaga kesehatan dengan latar belakang bidan dan perawat yang menitik beratkan kepada mekanisme penanganan terhadap kondisi kegawat daruratan yang dialami oleh ibu hamil.
![]() |
| Foto bersama CDR Gustin, dr. Iptu Nia Sabrina Purnamasari dan peserta pelatihan Kegawatdaruratan Ibu Hamil di RSUD Pandan |
Nia menjelaskan, kegawat daruratan tersebut meliputi tatacara menanggulangi komplikasi yang terjadi termasuk cara menangani kegawat daruratan tersebut.
Menurut Nia, materi pelatihan yang disampaikan hari itu bukanlah hal baru dalam dunia medis. Apalagi, peserta pelatihan berlatar belakang bidan yang sudah sangat familiar dan berpengalaman dalam menangani ibu hamil.
"Karena bidan-bidan kita sudah pernah menerima materi ini, jadi (pelatihan hari ini) lebih banyak bertukar pikiran dan berbagi pengalaman, bagaimana sih kondisi di US dan Indonesia," kata Nia.
Nia menerangkan, secara garis besar tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal penanganan ibu hamil di Indonesia dan Amerika Serikat.
"Secara garis besar semuanya sama. Namun, ada beberapa kasus yang mungkin lebih sering terjadi di Amerika ketimbang di Indonesia," ujarnya.
Nia mengakui, bahasa menjadi kendala dalam membangun interaksi antara narasumber dengan peserta.
Namun, meskipun demikian pihaknya (TNI) telah menyediakan seorang penerjemah untuk menghubungkan antara peserta dengan narasumber.
"Itu memang menjadi kendala terbesar. Namun karena disini sudah ada orang yang mampu menerjemahkan, jadi untuk masalah interaktif antar pemateri dan audiens itu tidak terjadi," pungkasnya.
Amatan limakabar.com. pelatihan yang digawangi oleh tenaga medis dari USA ini berlangsung sangat interaktif.
Kesempatan ini dimanfaatkan oleh seluruh peserta untuk bertanya banyak hal tentang penanganan kesehatan di negeri Paman Sam tersebut.
Selain berdiskusi tentang penanganan kedaruratan ibu hamil, peserta juga banyak pertanya tentang kesejahteraan bidan di Amerika, Keluarga Berencana, BPJS hingga MBG.
Selain di RSUD Pandan, delegai Pasifik Partnership juga melakukan kegiatan yang sama di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nauli Husada Sibolga-Tapanuli Tengah.
Seratusan mahasiswa STIKES Nauli Husada ikut secara aktif sebagai peserta dan berdiskusi banyak hal terkait kesehatan masyarakat.



.jpg)