![]() |
| Buya Syarfi Hutauruk (kanan) saat memilih bibit durian musang king disalah satu menyedia bibit buah di Jakarta |
JAKARTA - Pada hakekatnya produktifitas seseorang sangat ditentukan oleh usia. Itulah sebabnya, kita mengenal usia produktif untuk melabeli kelompok usia yang tetap bisa menghasilkan sesuatu atau melakukan sesuatu.
Usia produktif ini identik kepada kelompok umur mulai dari 15 hingga 64 tahun.
Namun demikian, selalu ada sedikit dari banyak orang yang tetap produktif meskipun usia sudah mendekati angka 70 tahun.
Satu dari sedikit orang itu adalah Buya H.M. Syarfi Hutauruk, ketua umum Persatuan Tarbiyah Islamiyah periode 2022-2027 dan pernah menjadi Walikota Sibolga periode 2010-2015 dan 2016-2021.
Lahir pada 9 Juli 1959, di Kecamatan Sorkam, Kabuapten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, buya Syarfi kini berusia 67 tahun.
Meski tak muda lagi, namun sosok yang pernah menjadi anggota DPR RI sejak 1997 - 2009 ini, tidak pernah berhenti beraktivitas.
Ibarat jantung, aktivitas baginya seperti mesin pemompa darah seluruh organ tubuhnya untuk dapat terus bergerak melakukan sesuatu, baik itu dalam konteks tanggungjawab sebagai seorang pimpinan atau sebatas mengisi waktu luang.
Seperti pada Kamis lalu (2/4/2026), saat yang lain masih sibuk merayakan lebaran, Buya Syarfi justru memilih memulai bertanam bibit durian Musang King, di halaman belakang rumahnya di Jakarta Selatan.
Kecintaan beliau terhadap durian memang tidak terkalahkan.
Saban ada kesempatan pulang kampung ke Sorkam, Tapanuli Tengah, buah pertama yang ia cari untuk dicicipi bersama-sama dengan warga sekampung adalah durian.
Saat menjadi Walikota Sibolga pun dulunya, durian menjadi menu "diplomasi" pemerintahan yang ia pimpin untuk mendengarkan keluh kesah warga.
Agaknya, ia ingin durian yang dulunya hanya bisa ia dapatkan di kampung tersebut, ingin ia budidayakan dekat dari rumahnya sendiri.
Sehingga ketika asa ingin menikmati durian tiba, halaman belakang rumahnya sudah menjadi titik terdekat yang bisa ia datangi untuk sekedar melepaskan rindu menikmati durian di kampung halaman.
"Tapi ini durian Musang King, durian dengan kualitas terbaik," kata Buya Syarfi mengawali obrolan santainya dengan wartawan limakabar.com
Ia menceritakan, meskipun lahir dari keluarga nelayan, namun berkebun dan bertani bukanlah hal baru bagi dirinya.
Hal ini karena, sang ibu Almarhumah Nurhadiah br. Marbun adalah seorang petani cekatan di Sorkam.
"Jadi dari dulu memang saya suka berkebun. Suka menanam tanaman-tanaman produktif apalagi buah-buahan," kenangnya.
Terkait durian, lanjutnya, adalah buah kesukaan seluruh masyarakat Sibolga dan Tapanuli Tengah. Buah durian ini, tidak setiap hari bisa dinikmati.
"Jadi ada musim-musimnya. Kalau sudah masuk musim durian, maka seluruh ruas jalan di Sibolga dan Tapanuli Tengah itu pasti dipenuhi penjual durian," ujarnya.
Berburu durian setiap pulang kampung, menjadi tradisi yang selalu ia jaga hingga kini.
Durian-durian tersebut, akan dinikmati bersama di rumah atau dilokasi-lokasi tertentu dengan kerabat, kolega atau mitra berjuangnya.
"Nanti duriannya kita padu dengan ketan/pulut, atau ketupat," ungkapnya yang memancing selera.
Kini, sensasi menikmati durian itu ingin ia rasakan sendiri langsung dari kebun yang ia buat sendiri di halaman belakang rumah.
Meskipun hanya terdiri dari beberapa pokok durian saja, namun hal itu sudah lebih dari cukup. Mengingat durian jenis Musang King merupakan jenis durian berkualitas berpohon rendah dengan buah yang banyak.
"Mudah-mudahan jadi (berbuah), biar bisa kita nikmati bersama," ucapnya sambil tersenyum.

