Taujihat MUI Kecam Agresi AS-Israel ke Iran, Ketum Perti Buya Syarfi : "Salah Satu Bentuk Nyata Kezaliman"

SW25
0
MUI bersama 10 ormas Islam pendiri secara bergantian membacakan 10 poin Taujihat yang berfokus pada perdamaian di Timur Tengah dan mengecam agresi militer AS-Israel ke Iran

JAKARTA - Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama 10 ormas Islam pendiri, mengeluarkan 10 poin Taujihat (arahan-red), yang dibacakan di Grand Ballroom Hotel Sultan, Jakarta, pada Rabu (15/4/2026).

Taujihat yang berfokus pada perdamaian Timur Tengah tersebut berisi poin-poin penting mencakup dukungan kemanusiaan untuk Palestina, pengecaman agresi militer AS-Israel, reformasi Perserikatan Bangsa-Banga dan seruan persatuan umat Islam dalam menuntut keadilan global.

Selain itu, MUI dan ormas Islam juga mendesak agar seluruh pelaku kejahatan perang diadili berdasarkan hukum internasional.

Ketua Umum PP Perti, Buya H.M. Syarfi Hutauruk, dalam keterangan persnya menjelaskan secara garis besar Taujihat MUI dan ormas Islam tersebut menegaskan sikap tegas umat Islam Indonesia dalam mengutuk keras agresi militer AS-Israel ke negara Iran, Libanon dan Palestina.

Apalagi, serangan tersebut dilakukan pada saat proses perundingan damai dan dialog masih berlangsung.

Agresi militer tersebut telah menimbulkan korban yang sangat banyak khususnya dari masyarakat sipil, termasuk anak-anak dan perempuan.

Sejumlah fasilitas umum seperti rumah sakit, sekolah, kampus, masjid dan fasilitas air bersih menjadi sasaran empuk zionis Israel dan Amerika, yang secara hukum internasional dilarang menjadi target serangan.

Buya H.M. Syarfi Hutauruk (kedua dari kiri) bersama piminan ormas Islam lainnya saat membacakan Taujihat MUI dan ormas Islam terkait Iran dan Palestina

"Jadi apa yang terjadi saat ini (di Iran, Libanon dan Palestina) merupakan kejahatan perang yang terstruktur dan para pelakunya harus diadili oleh pengadilan ICJ dan ICC," katanya.

Masih kata Buya Syarfi. Lahirnya Taujihat bertajuk Bersatu dalam ukhuwah untuk keadilan dan perdamaian duna ini, didorong oleh tanggungjawab kemanusiaan dalam menegakkan keadilan dan memberantas kezaliman.

Salah satu bentuk nyata kezaliman itu menurutnya adalah perang yang terjadi dan dipicu oleh hal-hal yang tidak dibenarkan dalam hukum internasional.

"Oleh karena itu menjadi kewajiban setiap umat manusia untuk menolak, menghentikan peperangan karena bentuk nyata kezaliman dan kesewenang-wenangan," ujarnya.

Selain, muara perang adalah kerugian bagi semua pihak yang terlibat, juga berpotensi merusak tatanan global bahkan dapat memicu perang dunia.

"Maka, MUI dan ormas Islam akan terus mendorong agar perang ini dihentikan dan mendukung langkah-langkah dialog dan perundingan untuk mencari solusi terbaik dari ketidaksepahaman masing-masing pihak yang terlibat," ungkapnya. 

Buya H.M. Syarfi Hutauruk (pertama dari kanan) bersama pimpinan ormas Islam lainnya 

Menyikapi gagalnya tercapai kesepakatan dalam perundingan antara AS-Israel dan Iran di Islamabad Pakistan beberapa waktu lalu, Buya Syarfi mengaku turut menyesalkan kegagaan tersebut.

Namun, meski demikian ia percaya perundingan damai tetap merupakan satu-satunya jalan terbaik untuk menghentikan agresi dan perang.

Oleh karena itu, baik MUI maupun ormas Islam lainnya tetap menyerukan agar perundingan dilanjutkan kembali sampai tercapai kesepakatan.

"Kita ingin perang berhenti, perdamaian di kawasan dan dunia bisa terwujud," pungkasnya.

Selain dihadiri seluruh pengurus MUI dan pimpinan ormas Islam seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Perti, Al Wasliyah dan Syarikat Islam, sejumlah ormas lainnya seperti DII, Al Ittihaiyah, GUPPI, PDTI dan Dewan Masjid Indonesia juga turut menyatakan sikapnya pada Taujihat Rabu kemarin.

Terlihat pula hadir sejumlah anggota kabinet Merah Putih, Ketua MPR RI, Ketua DPD RI, Panglima TNI, Kapolri serta duta-duta besar negara sahabat khususnya duta besar negara-negara Islam/ teluk.

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)